Rabu, 18 Juli 2012

Hutan Gambut

Hutan gambut adalah hutan yang tumbuh di atas kawasan yang digenangi air dalam keadaan asam dengan pH 3,5-4,0. Hutan gambut didefinisikan sebagai hutan yang terdapat pada daerah bergambut, daerah yang digenangi air tawar dalam keadaan asam dan di dalamnya terdapat penumpukan bahan-bahan tanaman yang telah mati (Indriyanto, 2005 dalam Indriyanto, 2010). Lahan gambut adalah lahan yang memiliki lapisan tanah kaya bahan organik (C-organik > 18%) dengan ketebalan 50 cm atau lebih.
Ekosistem gambut merupakan bagian terbesar dari kawasan lahan basah yang menyimpan kekayaan plasma nutfah yang mampu berkembang di dalam lingkungan yang amat terbatas dan merupakan cadangan bahan baku yang penting untuk mengembangkan tanaman dan hewan budi daya di daerah dengan lingkungan buruk (Mackinnon, 1994 dalam Dharmono, 2007). Ekosistem hutan gambut merupakan ekosistem yang cukup unik karena karena tumbuh di atas tumpukan bahan organik yang melimpah, akan tetapi tanah sangat miskin hara. Umumnya daerah gambut tergenangi oleh air tawar secara periodik dan lahannya memiliki topografi bergelombang kecil sehingga terdapat cekungan berisi genangan air (Indriyanto, 2005).
Semula para pakar tanah dari Eropa berpendapat bahwa gambut tidak akan ditemukan di daerah tropika yang mempunyai temperatur tinggi seperti di Indonesia, pendapat tersebut berdasar bahwa bahan organik dari tumbuhan akan cepat terdekomposisi oleh jasad renik dan tidak terlonggok di daerah beriklim panas. Akan tetapi dugaan tersebut ternyata salah, karena Bernelot Moens dan Van Vlaardingen pada tahun 1865 menemukan gambut di Karesidenan Besuki dan Rembang. Hasil ekspedisi Yzerman di Sumatra tahun 1895 juga melaporkan adanya gambut di daerah Siak, bahkan pada tahun 1794 John Andersen telah menyebutkan bahwa di Riau terdapat gambut (Soepraptohardjo dan Driessen, 1976 dalam Budianta, 2003). Kemudian baru pada tahun 1909 Potonie dan Kooders mengumumkan bahwa di Indonesia telah diketemukan gambut pada berbagai tempat (Wirjodihardjo dan Kong, 1950 dalam Budianta, 2003).

Flora dan Fauna
Jenis flora dan fauna di hutan gambut relatif terbatas. Di Kalimantan vegetasi khas dari hutan gambut terdiri dari assosiasi kayu ramin (Gonystylus spp). Di dalam assosiasi ini terdapat tiga lapisan tajuk:
  • tajuk atas terdiri dari kayu ramin (Gonystylus spp), Shorea albida, Shorea uliginosa, Tetramerista gabra, Durio sp., Ctelophon sp, Dyra sp, Palaqulum sp, Koompasia malacensisi;
  • tajuk tengah terdiri dari pepohonan yang termasuk familia Lauraceae seperti: Alseodaphae sp,, Endriandra rubescens, Litsea sp, Myristica inner, Horsfeldia sp, Garcinia sp, dan juga familia dari Euphorbiaceae, Myristicaceae dan Jbenaceae; dan
  • penutup tanah (tajuk yang paling bawah) terdiri dari familia Annonaceae, anakan-anakan dari pepohonan dan semak dari jenis Crinus sp.
Sedangkan fauna yang terdapat di hutan gambut yang mempunyai relung di pepohonan (arboreal), di daratan (terestrial) dan berelung di air. Berikut beberapa hewan hewan yang berada di masing-masing relung: 
  • yang berelung di pepohonan (arboreal) ialah lutung, siamang, kera ekor panjang, orang hutan, bekantan dsb.;
  • yang berelung di daratan (terestrial) ialah rusa, harimau, kancil dll.;
  • yang berelung di air ialah kura-kura/ labi-labi, buaya, ikan arwana, ikan tawes dll.;
berbagai burung migran dan jenis setempat juga dijumpai di pepohonan untuk mencari makan dan bersarang (Atmawidjaja, 1988 dalam Budianta, 2003).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar